Oke, siap! Mari kita buat kisah absurd ala dracin ini: **Langit yang Menangis di Hari Reinkarnasi** Di sebuah Shanghai yang berlumur neon, di mana *smog* lebih tebal dari kenangan, hiduplah Lin Yue. Ia adalah arsitek mimpi, merancang bangunan yang takkan pernah ada, terobsesi dengan pesan terakhir yang belum terkirim: "Aku di atap Bund, tunggu aku." Pesan itu, dari entah siapa, menghantuinya setiap malam, berkedip-kedip di layar ponselnya seperti kunang-kunang yang sekarat. Di sisi lain waktu, di sebuah desa terpencil di kaki Gunung Emei abad ke-18, tinggallah Mei Lan. Ia pelukis awan, menangkap warna-warna senja yang merindukan fajar. Setiap tetes tinta yang ia goreskan, setiap sapuan kuas di atas sutra, terasa seperti balasan untuk sebuah pesan yang belum pernah ia terima. *Kenangan* seorang pria asing, yang berjanji menemuinya di atap dengan pemandangan kota yang bergemerlapan, mencengkeram hatinya. Pria itu... Lin Yue? Jaringan internet putus-putus adalah benang merah absurd yang menghubungkan mereka. Lin Yue mendapati dirinya melihat lukisan Mei Lan muncul sebagai *error* aneh di Google Arts & Culture. Mei Lan, sebaliknya, mendengar suara Lin Yue melalui radio usang yang tiba-tiba menyala di tengah badai, membisikkan nama-nama jalan yang asing, kode-kode apartemen yang tak pernah ia lihat. Mereka mencoba menjangkau, Lin Yue dengan *chat* yang berhenti di “sedang mengetik,” Mei Lan dengan surat-surat yang terbakar menjadi abu sebelum sempat dikirim. Cinta mereka tumbuh seperti jamur di dunia yang membusuk—terlarang, mustahil, namun *MEMAKSA*. Suatu malam, di hari reinkarnasi yang aneh—ketika langit menangis hujan asam dan bintang-bintang menari dengan liar—Lin Yue akhirnya berhasil menembus portal waktu. Ia berdiri di hadapan Mei Lan, di bawah pohon sakura yang berguguran salju di tengah musim panas. Tapi... ada yang salah. Mei Lan memandangnya dengan tatapan kosong. “Kamu terlambat,” bisiknya. “Aku sudah lama menunggu. Kamu... bukan dia.” Lin Yue terpaku. Ia menatap pantulan dirinya di mata Mei Lan, melihat bukan bayangannya sendiri, tapi bayangan seorang pria lain, seorang pria yang lebih tua, seorang pria yang *pernah* mencintai Mei Lan di kehidupan sebelumnya... kehidupan *sebelumnya* kehidupan sebelumnya. Dan di situlah rahasia ganjil itu terkuak: cinta mereka bukanlah takdir, bukan keajaiban, tapi hanya **ECHO** dari cinta yang tak pernah selesai, sebuah _bug_ dalam matriks waktu yang terus berulang, mengirimkan sinyal putus asa melintasi dimensi. Di saat yang sama, Mei Lan menghela napas. Dia kembali melukis di kertasnya. Kali ini, dia menggores kata-kata yang menembus tulang, "*Dia kembali mencariku tapi kali ini... aku sudah lupa.*" Langit berhenti menangis. Dunia terdiam. ...sampai jumpa di atap, *mungkin*, di kehidupan selanjutnya...?
You Might Also Like: 78 How To Draw Polly Pocket Step By
