SERU! Cinta Yang Kuterima Sebagai Kutukan



Senja Merah Delima di Gerbang Tak Berujung

Hujan menggigil membasahi jubah sutraku. Di gerbang ini, sepuluh tahun lalu, aku mengucapkan janji setia. Di gerbang ini pula, janji itu dikhianati. Aroma tanah basah mengingatkanku pada aroma pengkhianatan itu sendiri—pahit dan menyesakkan.

Sosok itu berdiri di kejauhan, siluetnya tertangkap bias cahaya lentera yang remang-remang. Dia. Lian, cinta pertamaku, pengkhianatku.

Dulu, tawa kami bagai lonceng perak yang berdentang di antara kebun teh. Sekarang, yang tersisa hanyalah bayangan yang patah, terdistorsi oleh genangan air di jalan setapak.

"Xiuying…" Suaranya, yang dulu kurindukan sepenuh hati, kini terdengar seperti belati yang perlahan mengiris. "Kau kembali."

Aku membalas tatapannya, dingin seperti es di puncak gunung. "Aku berjanji akan kembali. Dan aku selalu menepati janji."

Lian melangkah mendekat. Cahaya lentera menyoroti kerutan di wajahnya, garis-garis halus yang mengkhianati beban hidupnya. Dia terlihat lelah. Usia telah memudar kan ketampanannya. Apakah penyesalan juga memudar kannya?

"Aku… aku menyesal, Xiuying. Sungguh."

Tawa sinis menyembur dari bibirku. "Penyesalan? Apakah penyesalan bisa mengembalikan kehormatan keluargaku? Mengembalikan nyawa ayahku?"

Lian terdiam. Dia tahu. Dia SELALU tahu.

Hujan semakin deras. Air mata bercampur dengan tetesan hujan di pipiku. Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma kematian dan kebusukan yang selalu menemaniku sejak hari itu.

"Dulu, aku mencintaimu melebihi apa pun di dunia ini, Lian. Kau adalah matahariku, bintangku, segalanya bagiku." Aku mendekat, suaraku berbisik seperti desiran angin di antara dedaunan bambu. "Tapi sekarang… kau hanyalah debu di bawah telapak kakiku."

Dia mencoba meraih tanganku, namun aku mengelak. Sentuhannya kini terasa menjijikkan.

"Xiuying, kumohon… dengarkan aku."

Aku tersenyum—senyum yang tidak lagi mengandung kehangatan, senyum yang dingin dan mematikan.

"Kau tahu, Lian," bisikku. "Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk merencanakan segalanya. Semua yang terjadi selama ini… semua 'kesulitan'mu… semua 'kebetulan' yang menghancurkan hidupmu… semua itu… adalah karyaku."

Lentera di tangannya bergetar, nyaris padam. Wajahnya pucat pasi.

"Kenapa?" lirihnya.

Aku tertawa. Tawa yang keras, yang menggema di antara pepohonan basah. Tawa yang dipenuhi dengan kebencian dan dendam.

"Karena cintamu adalah kutukanku. Dan aku… akan memastikan kau merasakan kutukan yang sama."

Aku berbalik, meninggalkannya berdiri di tengah hujan, diterangi cahaya lentera yang nyaris padam. Langkahku ringan, seolah beban bertahun-tahun telah terangkat dari pundakku.

Aku tahu, dia akan mati sebentar lagi—bukan karena aku membunuhnya secara langsung, tetapi karena aku telah membunuh jiwanya.

Dan saat itulah, di balik bayangan gerbang yang tak berujung, kurasakan sentuhan dingin di punggungku—sentuhan yang sangat familiar, sentuhan yang membangkitkan kenangan tentang malam di mana semua ini dimulai, tentang rahasia yang selama ini terkubur dalam-dalam: ternyata bukan hanya dia yang mengkhianatiku, tetapi...

You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Halal Dan Aman

Post a Comment

Previous Post Next Post