Pelukan yang Mengantar Kepergian
Kabut ungu menyelimuti Kota Terlarang, senada dengan kesuraman yang membekas di hati Lin Wei. Ia berdiri di puncak menara, jubah brokatnya berkibar tertiup angin malam. Di bawah sana, obor-obor menari seperti kunang-kunang yang terjebak, mengiringi langkah BERAT seseorang.
Dia adalah Zhao Yun, sahabat sejak kecil, saudara seperguruan, dan ternyata, pengkhianat yang paling lihai.
"Wei," suara Zhao Yun memecah keheningan. Ia mendongak, mata elangnya memancarkan campuran penyesalan dan tekad. "Sudah lama."
Lin Wei tertawa pahit. "Lama sekali, Yun. Cukup lama untuk menyimpan kebencian ini."
Sejak kecil, mereka bagai dua sisi koin yang sama. Lin Wei, si cerdas dan pendiam, dan Zhao Yun, si pemberani dan karismatik. Mereka bersumpah setia di bawah pohon sakura yang sama, berjanji untuk selalu melindungi satu sama lain. Lalu, RAHASIA itu terkuak.
Zhao Yun, ternyata, adalah anak haram Kaisar sebelumnya. Ayahnya dibunuh secara keji oleh Kaisar saat ini, yang tak lain adalah ayah Lin Wei.
"Kau tahu, Wei," kata Zhao Yun dengan suara serak, "aku selalu mengagumimu. Kecerdasanmu, ketenanganmu… bahkan keberuntunganmu."
"Keberuntungan?" Lin Wei mengangkat alis. "Keberuntungan lahir dari tahta berlumuran darah? Itu yang kau sebut keberuntungan?"
"Ayahmu… dia merebut tahta itu dengan licik. Dia membunuh ayahku!" Zhao Yun mengepalkan tangannya. Urat-urat di lehernya menegang.
Lin Wei terdiam. Rahasia yang selama ini disimpannya akhirnya terkuak. Ya, ayahnya memang merebut tahta. Tapi, ada alasan di baliknya. Ayah Zhao Yun, Kaisar sebelumnya, adalah seorang tiran kejam yang menyengsarakan rakyat.
"Kau tidak tahu kebenaran yang sebenarnya, Yun," bisik Lin Wei. "Ayahmu… dia tidak suci seperti yang kau bayangkan."
"Kebohongan! Itu semua kebohongan yang ayahmu ciptakan untuk menutupi kejahatannya!" Zhao Yun meludah.
Permainan pisau di balik senyum dimulai. Setiap kata yang terucap adalah tusukan halus, setiap tatapan adalah racun yang menyebar.
"Kau mencintaiku, bukan begitu, Yun?" Lin Wei bertanya, menatap langsung ke mata Zhao Yun. "Atau semua ini hanya sandiwara belaka?"
Zhao Yun terdiam. Sebuah keraguan melintas di matanya. Dulu, mungkin ada cinta di antara mereka. Cinta seorang saudara, cinta seorang teman. Tapi, KEMARAHAN dan DENDAM telah meracuninya.
"Cinta tidak ada artinya lagi, Wei," jawab Zhao Yun dingin. "Yang ada hanyalah keadilan."
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang pucat, Zhao Yun memimpin pasukan pemberontak menyerbu istana. Pertumpahan darah tak terhindarkan. Lin Wei, dengan pedang di tangannya, menghadang Zhao Yun di aula utama.
Pertarungan sengit terjadi. Dua sahabat, kini menjadi musuh bebuyutan, saling beradu kekuatan dan keterampilan. Setiap tebasan, setiap desisan pedang, mengisahkan luka masa lalu.
Akhirnya, Zhao Yun berhasil melumpuhkan Lin Wei. Ia mengarahkan pedangnya ke jantung Lin Wei.
"Maafkan aku, Wei," bisik Zhao Yun. "Aku harus melakukannya."
Lin Wei tersenyum lemah. "Aku tahu."
Sebelum Zhao Yun menghujamkan pedangnya, Lin Wei menarik Zhao Yun ke dalam pelukan erat. Pelukan yang mengantar kepergian. Di telinga Zhao Yun, Lin Wei membisikkan sebuah rahasia.
"Ayahmu… dia merencanakan pemberontakan lebih dulu. Dia ingin membunuh semua orang, termasuk dirimu…"
Zhao Yun tertegun. Tangan yang memegang pedang bergetar. Ia menatap Lin Wei dengan nanar.
Lin Wei menekan pedang itu lebih dalam.
"…Maafkan aku, karena tidak pernah bisa mengungkapkannya…"
Tubuh Lin Wei ambruk ke pelukan Zhao Yun. Darah membasahi jubah mereka. Zhao Yun berlutut di samping jenazah Lin Wei, air mata mengalir di pipinya. Kebenaran yang baru saja terungkap menghancurkannya. Ia telah membunuh orang yang paling dicintainya, demi membalaskan dendam yang salah.
Zhao Yun, dengan hati hancur, kemudian mengundurkan diri dari perebutan tahta dan menghilang tanpa jejak, dihantui oleh pengakuan terakhir Lin Wei sebelum mati.
You Might Also Like: 31 Quench Your Thirst For Tropical