Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya dracin dengan suasana lirih dan penuh penyesalan: **Senyum yang Menemani Jiwa** Hujan gerimis membasahi atap paviliun, meniru irama guqin yang mengalun pilu. Di dalam, Mei Hua duduk bersimpuh, gaun sutra putihnya berkibar lembut tertiup angin malam. Di pangkuannya, tergeletak sebuah kotak musik berukir naga dan phoenix. Kotak itu, _dahulu_, menjadi saksi bisu cintanya dengan Li Wei. Lima tahun lalu, Li Wei, tunangannya, pewaris tunggal keluarga Li yang kaya raya, menikahi Lian Fang, putri Jenderal Besar yang berkuasa. Mei Hua, yang hanya seorang guru kaligrafi miskin, hanya bisa menelan pil pahit itu. Bukan karena ia *lemah*, melainkan karena ia menyimpan sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan seluruh Dinasti. Rahasia tentang... kelahiran Kaisar. "Nona Mei Hua," suara pelayan membuyarkan lamunannya. "Surat dari Kota Terlarang." Surat itu, ditulis dengan tinta emas di atas kertas sutra merah, hanya berisi satu kalimat: "Waktunya telah tiba." Mei Hua tersenyum pahit. _Waktunya tiba untuk apa?_ Untuk mengungkap kebenaran? Untuk membalas dendam? Tidak. Ia tak akan mengotori tangannya dengan darah. Takdir akan menunaikan tugasnya sendiri. Lima tahun berlalu, Li Wei hidup dalam pernikahan yang hampa. Lian Fang, meski cantik dan berkuasa, tak pernah bisa menyentuh hatinya. Bayangan Mei Hua terus menghantuinya. Ia tahu, ia telah melakukan kesalahan BESAR. Suatu malam, Li Wei mendapati dirinya berdiri di depan paviliun Mei Hua. Ia melihat siluet wanita itu di balik tirai bambu. Dengan ragu, ia mengetuk pintu. "Siapa itu?" tanya Mei Hua, suaranya lembut namun dingin. "Mei Hua, ini aku, Li Wei." Pintu terbuka perlahan. Mei Hua berdiri di ambang pintu, sorot matanya kosong. Ia tampak jauh lebih kurus, lebih rapuh. Di tangannya, tersembunyi kotak musik naga dan phoenix. "Li Wei, apa yang membawamu kemari?" "Aku... aku merindukanmu." Mei Hua tertawa pelan, tawa yang lebih terdengar seperti tangisan. "Merindukanku? Setelah kau menghancurkan hidupku?" "Aku tahu, aku salah. Aku... aku menyesal." Mei Hua membuka kotak musik itu. Melodi lembut mengalun di udara, melodi yang sama yang dulu menyatukan mereka. Sambil mendengarkan musik itu, Mei Hua menceritakan KEBENARAN. Kebenaran tentang Kaisar yang ternyata bukan anak kandung mendiang Permaisuri. Kebenaran yang ia lindungi selama ini demi ketenangan Dinasti. Li Wei terkejut. Ia tak menyangka, Mei Hua menyimpan rahasia sebesar itu. Ia menyadari betapa bodohnya ia telah menyia-nyiakan wanita SEHEBAT ini. Beberapa bulan kemudian, Lian Fang ditemukan tewas di kamarnya. Rumor mengatakan, ia bunuh diri karena depresi. Li Wei, yang kini telah menjadi salah satu penasihat Kaisar, menikahi seorang wanita bangsawan yang lemah lembut dan patuh. Suatu hari, Kaisar jatuh sakit parah. Dokter istana tak mampu menyembuhkannya. Di saat kritis, Li Wei merekomendasikan seorang tabib misterius. Tabib itu, yang memakai cadar, memberikan ramuan ajaib kepada Kaisar. Kaisar sembuh, namun tak lama kemudian, ia tiba-tiba *mengundurkan diri* dari tahta dan hidup mengasingkan diri di kuil. Tahta kosong. Siapa yang akan menjadi Kaisar selanjutnya? Tentu saja, putra mahkota. Putra mahkota yang ternyata... adalah anak dari Mei Hua dan Kaisar sebelumnya. Rahasia itu, akhirnya terungkap. Mei Hua, yang kini bergelar Ibunda Suri, berdiri di balkon Istana, menatap langit malam. Di tangannya, ia memegang kotak musik naga dan phoenix. Ia tersenyum. Senyum yang tulus, senyum yang menemani jiwanya yang telah lama terluka. Di kejauhan, ia melihat siluet Li Wei berdiri di taman. Ia tahu, pria itu menyesal. Penyesalan yang akan menemaninya hingga akhir hayat. Balas dendam telah tiba. Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan takdir yang berbalik arah. Dan takdir itu... membawanya menuju puncak kekuasaan, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk putranya, sang Kaisar. Angin berhembus kencang, membawa serta aroma bunga plum dan _kepingan-kepingan masa lalu_ yang tak akan pernah kembali...
You Might Also Like: Jualan Skincare Bimbingan Bisnis Online