Baik, ini dia kisah "Aku Menjadi Foto yang Terhapus, Tapi Masih di Backup Cloud": **Aku Menjadi Foto yang Terhapus, Tapi Masih di Backup Cloud** Hujan jatuh di atas nisan marmer, setiap tetesnya adalah air mata yang tak terucap. Begitu sunyi. Aku ada di sana, bayangan yang menolak pergi, _**roh**_ yang terikat antara dunia hidup dan **DIMENSI** arwah. Namaku Lin Wei, atau, begitulah aku *dulu* dipanggil. Sekarang, aku hanyalah gema, sepotong memori yang menempel di udara. Kematian menjemputku terlalu cepat. Kecelakaan mobil, kilatan lampu, dan *gelap*. Tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal, tidak ada waktu untuk mengakui **KEBENARAN** yang membebani hatiku selama bertahun-tahun. Aku pergi dengan rahasia yang belum terungkap, janji yang belum ditepati, dan rasa bersalah yang mencekik. Aneh rasanya. Aku bisa melihat mereka, keluarga dan teman-temanku, berduka di sekitarku. Aku bisa mendengar bisikan kesedihan, rintihan penyesalan. Tapi aku tidak bisa menyentuh mereka, tidak bisa berbicara, tidak bisa berinteraksi. Aku seperti foto yang terhapus dari galeri ponsel, hilang dari pandangan, namun masih tersimpan aman di _backup cloud_. Abadi, namun tak terjangkau. Aku kembali bukan untuk balas dendam, bukan untuk menuntut keadilan. Meskipun ada dendam yang membara di dalam dadaku, aku tahu itu bukan jalan keluar. Aku kembali untuk mencari **KEDAMAIAN**. Kedamaian untuk diriku sendiri, kedamaian untuk orang-orang yang kucintai. Tugas pertamaku adalah menemui Xia Mei, sahabatku. Bertahun-tahun lalu, aku *berbohong* padanya. Kebohongan kecil yang tumbuh menjadi tembok besar di antara kami. Aku harus menjelaskan, aku harus meminta maaf. Aku melihatnya di kamarku, memeluk fotoku sambil terisak. Sakit rasanya melihatnya seperti itu. Aku membisikkan kata-kata maaf berulang-ulang, berharap dia bisa mendengarku. Aku mencoba menyentuhnya, tapi tanganku hanya menembus tubuhnya. **FRUSTRASI!** Lalu, aku melihatnya membuka laptopku. Ia mencari sesuatu. Aku mengikutinya, terheran-heran. Di folder foto, dia menemukan foto lama kami berdua, saat masih kecil. Di baliknya, ada tulisan tanganku: "Aku menyayangimu, Xia Mei. Maafkan aku." Ia tersenyum, air matanya masih mengalir. Kemudian, aku tahu. Ia sudah tahu. Ia memaafkanku. Kehadiranku di sini bukan untuk menjelaskan, tapi untuk melihat bahwa ia sudah memaafkanku. Kedamaian mulai merayapi hatiku. Selanjutnya adalah ayahku. Ia selalu menjadi sosok yang keras dan dingin, tapi aku tahu ia mencintaiku. Aku melihatnya berdiri di depan makamku, tatapannya kosong. Ia menaruh bunga lili putih, bunga favoritku. Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku baik-baik saja, bahwa aku tidak menyesal. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya bisa berdiri di sampingnya, bayangan yang tak terlihat. Tiba-tiba, aku merasakan tarikan yang kuat. Duniaku mulai kabur. Waktuku di sini hampir habis. Aku melihat ke belakang, menatap makamku, menatap Xia Mei dan ayahku. Aku tersenyum, senyuman tulus yang pertama sejak aku meninggal. Dan saat cahayaku memudar, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku harus _melepaskan_. Semua ini, hanya untuk melihat bahwa kebenaran memang selalu menemukan jalannya, bahkan tanpa kata-kata terucap...
You Might Also Like: Rahasia Moisturizer Lokal Dengan