Ini Baru Cerita! Aku Tahu Cinta Ini Tak Boleh Tumbuh, Tapi Ia Tetap Mekar Di Luka



Hujan menggigil membasahi atap paviliun yang lapuk. Dulu, tempat ini adalah saksi bisu sumpah setia mereka. Dulu. Sekarang, hanya tersisa kenangan yang menusuk kalbu, seperti serpihan kaca di telapak tangan. Lentera yang tergantung di teras paviliun cahayanya nyaris padam, berkedip-kedip seolah ikut merasakan pedihnya hati Xiulan. Di hadapannya, berdiri Jian, sosok yang dulu begitu dicintainya, kini hanya bayangan buram dari masa lalu. "Xiulan..." Suara Jian serak, parau. "Aku... aku minta maaf." Xiulan tersenyum pahit. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Maaf? Untuk apa, Jian? Untuk pengkhianatanmu? Untuk kebohonganmu? Atau untuk fakta bahwa kau memilihnya... *dia*?" Bayangan mereka berdua memanjang di lantai paviliun yang basah, saling tumpang tindih namun terpisah jurang yang dalam. Dulu, bayangan mereka menyatu, menari di bawah rembulan. Sekarang, bayangan itu patah, hancur. "Aku terpaksa, Xiulan. Aku tidak punya pilihan!" Jian membela diri, namun suaranya bergetar. Matanya memancarkan penyesalan yang terlambat. "Pilihan?" Xiulan tertawa hambar. "Kau selalu punya pilihan, Jian. Kau memilih ambisi, kau memilih kekuasaan, kau memilih dia. Dan kau meninggalkan aku... *terluka*." Hujan semakin deras. Petir menyambar, menerangi wajah Xiulan yang pucat. Di balik tatapan dinginnya, tersimpan luka yang menganga. Cinta yang dulu begitu membara, kini hanya abu yang bertebaran. "Kau pikir aku diam saja selama ini, Jian? Kau pikir aku membiarkanmu bahagia dengan pengkhianatanmu?" Suara Xiulan pelan, namun menusuk. "Kau salah besar." Jian tertegun. Ada sesuatu yang berubah dari diri Xiulan. Bukan hanya luka yang terpancar dari matanya, tapi juga... **KEMARAHAN** yang terpendam. "Kau tahu, Jian? Aku selalu mencintai bunga teratai putih yang kau tanam di taman ini. Simbol cinta kita, katamu. Tapi, tahukah kau bahwa akar teratai putih... *beracun*?" Xiulan mendekat, bibirnya menyunggingkan senyum mengerikan. Jian mundur selangkah. Wajahnya pucat pasi. Dia mulai mengerti. Semua ini... *semua ini* adalah... "Aku tidak mengerti..." bisik Jian, suaranya nyaris tak terdengar di tengah gemuruh hujan. Xiulan tertawa lagi, tawa tanpa sukacita. "Kau akan mengerti, Jian. Sebentar lagi kau akan mengerti." Tiba-tiba, dari balik kegelapan, muncul beberapa sosok berpakaian hitam. Mereka mengelilingi Jian, pedang mereka berkilauan diterpa petir. Jian menoleh pada Xiulan, matanya memohon. "Xiulan... apa yang kau lakukan?" Xiulan hanya menatapnya dengan tatapan kosong. "Aku hanya membalas apa yang pantas aku dapatkan, Jian. Aku hanya menanam bibit yang kau tanam." Salah satu pria berpakaian hitam mendekat ke arah Jian. Dia membungkuk hormat pada Xiulan, lalu mengangkat pedangnya. "Maafkan aku, Tuan Jian." Suara pedang beradu dengan hujan, memecah kesunyian malam. Xiulan berbalik, meninggalkan paviliun yang lapuk, meninggalkan Jian yang kini tergeletak di tanah, berlumuran darah. Langkahnya ringan, seolah beban berat telah diangkat dari pundaknya. Saat dia melangkah keluar dari paviliun, terdengar bisikan lirih dari bibirnya: "Ternyata... *dia* yang membunuh ayahku."
You Might Also Like: Jual Produk Skincare Lotase Original

Post a Comment

Previous Post Next Post