Kisah Seru: Aku Berdoa Agar Kau Berhenti Mencintaiku, Tapi Diam-diam Aku Takut Doaku Dikabulkan



**Aku Berdoa Agar Kau Berhenti Mencintaiku, Tapi Diam-Diam Aku Takut Doaku Dikabulkan** Hujan gerimis membasahi paviliun yang dulu menjadi saksi bisu janji-janji kita. Dulu, tawa kita menggema di antara wisteria yang menjuntai, seindah mimpi di musim semi. Sekarang, hanya keheningan dingin yang menusuk tulang. Kau berdiri di sana, di bawah payung merah delima yang dulu kupilihkan. Mata kita bertemu, tapi tidak lagi saling menyapa. Hanya ada jurang yang menganga, terisi oleh *penyesalan* dan kata-kata yang tak terucap. “Aku… aku akan pergi,” bisikmu, suaramu serak tertelan angin. “Aku akan menikahi Mei Hua.” Kata-kata itu seperti belati yang menghunjam jantungku. Mei Hua. Nama yang selama ini bersembunyi di balik senyum palsumu. Nama yang merebutmu dariku. Aku ingin berteriak, memohon, meratap. Aku ingin mengatakan bahwa kau adalah duniaku, nafasku, denyut jantungku. Tapi bibirku kelu. Air mataku membeku di pelupuk mata. “Aku mengerti,” jawabku akhirnya, suaraku nyaris tak terdengar. Bohong. Aku tidak mengerti. Aku tidak akan pernah mengerti. Kau menunduk, menghindari tatapanku. Lalu, dengan langkah ragu, kau berbalik dan pergi. Payung merah delima itu perlahan menghilang di balik rintik hujan. Meninggalkanku dalam kesunyian yang ***MENCENGKERAM***. Di saat itulah, aku berdoa. Berdoa agar kau berhenti mencintaiku. Agar rasa sakit ini berhenti membakar jiwaku. Tapi di saat yang sama, ada bisikan kecil yang ketakutan di dalam hatiku. Bisikan yang takut doaku dikabulkan. Bertahun-tahun berlalu. Mei Hua melahirkan seorang putra, penerus tahta. Kau hidup dalam kemewahan dan kekuasaan, persis seperti yang selalu kau inginkan. Aku, di sisi lain, menjalani hari-hariku dalam kesederhanaan, merawat kebun wisteria yang dulu kita tanam bersama. Suatu hari, aku mendengar berita. Putra mahkota sakit keras. Semua tabib istana telah dikerahkan, tapi tak ada yang bisa menyembuhkannya. Kau memohon padaku, memintaku untuk datang dan membantunya. Aku datang. Aku menatap mata anak itu, mata yang memiliki sedikit kesamaan denganmu. Aku tahu penyakitnya. Aku tahu obatnya. Aku juga tahu bahwa obat itu akan memberinya kesembuhan sementara, tapi akan membuatnya rentan terhadap penyakit yang lebih parah di kemudian hari. Aku memberinya ramuan itu. Kau mengucapkan terima kasih dengan air mata berlinang. Aku hanya tersenyum tipis. Takdir memang aneh. Anak itu tumbuh menjadi pria yang kuat dan berani. Tapi di usia muda, ia meninggal karena penyakit yang tak terduga. Kau kehilangan segalanya. Kau kehilangan putra mahkota, harapan penerus tahta. Kau kehilangan segalanya yang kau kejar. Kau menatapku dengan tatapan kosong, penuh tanya dan tuduhan yang tak terucapkan. Aku hanya mengangkat bahu. Mungkin ini bukan balas dendam. Mungkin ini hanya **KOIN***siden*. Mungkin ini hanya takdir yang menuntut keadilan. *Saat kau menatapku dengan tatapan yang dulu kupuja, aku sadar, bisakah kebencianku memadamkan cinta yang masih membara, atau justru menyulut api yang lebih dahsyat lagi?*
You Might Also Like: Dracin Seru Janji Yang Kuterjemahkan

Post a Comment

Previous Post Next Post