Absurd tapi Seru: Kau Mengangkat Pedang Padaku, Tapi Mata Kita Saling Memaafkan Sebelum Darah Jatuh



Baiklah, ini dia kisah dracin pendek dengan elemen yang Anda minta: **Kau Mengangkat Pedang Padaku, Tapi Mata Kita Saling Memaafkan Sebelum Darah Jatuh** Kabut ungu menggantung rendah di atas Danau Cermin. Di permukaan air yang tenang, *terbayang* wajahku; bukan wajah Lin Yue, tabib desa yang sederhana, melainkan bayangan samar seorang jenderal wanita dengan zirah perak dan tatapan setajam elang. Bayangan itu, **Xiulan**, mati ribuan tahun lalu. Setiap kali aku menyentuh *bianhua*, kalung bunga batu giok peninggalan ibuku, ingatanku berdenyut. Fragmen-fragmen peperangan, intrik istana, dan…pengkhianatan menusukku seperti jarum. Lalu, dia datang. Jenderal Zhao Feng, pahlawan muda yang diagungkan rakyat. Tangannya cekatan memanah, senyumnya menawan. Tapi di matanya, aku melihat kilatan yang *familiar*. Kilatan yang sama yang kulihat dari punggungnya saat pedangnya menembus jantungku di medan perang yang berlumuran darah. Di kehidupan lalu, aku mempercayainya. Aku, Xiulan, panglima besar dari Kerajaan Azure, mempercayai Zhao Feng, tangan kananku, kekasihku. Dia menghunus pedang tepat saat kemenangan di genggaman. Kini, kami berdiri berhadapan di tepi Danau Cermin. Zhao Feng mengangkat pedangnya. Udara dingin menyengat kulitku. Ia akan membunuhku lagi. “Lin Yue,” desisnya, suaranya berat. Ada penyesalan di sana, kebingungan…atau mungkin *kepura-puraan* yang sempurna. Aku tidak menghindar. Aku menatap matanya. Di sana, di kedalaman pupilnya, aku melihat bayangan Xiulan dan Zhao Feng di masa lalu. Aku melihat alasan pengkhianatan itu: ambisi, ketakutan akan kekuasaanku, janji kekaisaran dari musuh bebuyutan. Aku melihat semua, dan untuk sesaat, aku memahami. Pedang itu berhenti tepat di leherku. Mata kami bertemu. Ada permohonan maaf yang sunyi, pengakuan dosa yang terlambat. *Kau mengangkat pedang padaku, tapi mata kita saling memaafkan sebelum darah jatuh*. Aku menurunkan tangannya. “Aku tahu.” Dia tertegun. Kebingungan menggerogoti wajahnya. Dia mengharapkan perlawanan, kebencian, amarah. Bukan pengampunan. Aku mengambil *bianhua* dari leherku. Batu giok itu memancarkan cahaya kebiruan yang lembut. “Kalung ini…adalah kunci. Kunci untuk membuka Gerbang Abadi. Kau menginginkannya, bukan?” Dia mengangguk, tanpa kata. “Ambillah.” Aku menyerahkan kalung itu padanya. “Tapi ingat, Zhao Feng…atau siapapun namamu di kehidupan ini…kau tidak akan menemukan *keabadian* yang kau cari. Yang kau temukan hanyalah…kekosongan.” Dengan kalung di tangannya, Zhao Feng menghilang dalam pusaran kabut. Aku tahu, keputusanku ini akan mengubah jalan takdirnya. Ia akan menjadi Kaisar, penguasa yang berkuasa tapi hampa. Dan aku? Aku akan kembali menjadi tabib desa yang sederhana, menyembuhkan luka dan membiarkan karma menuntaskan tugasnya. Aku berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Danau Cermin dan bayangan masa lalu. Tapi sebelum menghilang di balik pepohonan sakura yang mekar, aku mendengar bisikan angin yang lirih: *Kita akan bertemu lagi, di bawah bintang yang sama, di tanah yang berdarah…. dan saat itu, kita akan melanjutkan percakapan ini*.
You Might Also Like: 48 How To Find Your Courses Discover

Post a Comment

Previous Post Next Post