Cerpen Terbaru: Kau Menatapku Dari Kehidupan Lain, Tapi Matamu Masih Sama



Baiklah, ini dia kisah dracin pendek yang kamu minta: **Kau Menatapku dari Kehidupan Lain, Tapi Matamu Masih Sama** Kabut tipis menggantung di atas Danau Bulan Sabit, menyelimuti Pagoda Giok dengan misteri. Aku, Lian Hua, berdiri di sana, merasakan getaran aneh yang menusuk tulang. Bukan dinginnya musim gugur, tapi sentuhan masa lalu. Aku *bukanlah* Lian Hua yang seharusnya. Di kehidupan sebelumnya, aku adalah Putri Meilin, pewaris takhta yang dikhianati oleh cinta pertamaku, Jenderal Zhao, dan sahabat karibku, Selir Yun. Mereka bersekongkol merebut kekuasaan, menuduhku berkhianat, dan menghukumku dengan kematian yang menyakitkan. Setiap malam, mimpi buruk itu datang: aroma lotus yang memabukkan sebelum racun mengalir di nadiku, tatapan *dingin* Zhao saat aku meregang nyawa. Di kehidupan ini, ingatan itu datang perlahan, seperti tetesan air yang mengikis batu. Awalnya hanya kilatan, lalu fragmen, dan akhirnya, sebuah panorama mengerikan tentang pengkhianatan. Dan kemudian, aku melihatnya. Di tengah keramaian pasar malam, mata itu menatapku. Mata *itu*! Walaupun wajahnya berbeda, postur tubuhnya berubah, energi di sekelilingnya… itu adalah Zhao. Sekarang, dia hanya seorang pedagang teh biasa, tapi aku *tahu*. Dia mendekat, matanya dipenuhi ketertarikan. "Nona Lian Hua, teh ini sangat cocok untukmu. Aroma melatinya akan menenangkan hatimu." Aku tersenyum tipis. "Terima kasih, Tuan Zhao." Dia tersentak. "Maaf, Nona, aku tidak mengerti…" Aku membiarkannya dalam kebingungan. Balas dendamku tidak akan dengan pedang atau racun. Aku punya rencana yang jauh lebih halus. Aku akan menggunakan pengetahuanku tentang masa depan, tentang intrik politik yang akan segera terjadi, untuk memastikan dia dan keturunannya *tidak pernah* merasakan kekuasaan. Aku akan memanipulasi takdir dengan setiap keputusan yang kuambil. Aku berbalik, meninggalkan pasar, meninggalkan Zhao yang kebingungan di belakang. Aku tahu, suatu hari nanti, dia akan mengingat semuanya. Suatu hari nanti, dia akan merasakan betapa pahitnya pengkhianatan yang ia tabur. Aku berhenti sejenak di jembatan batu, menatap refleksi bulan di danau. Mungkin di kehidupan selanjutnya, kita akan bertemu lagi… dan aku akan mengingatmu *lagi*.
You Might Also Like: 470 Interview Panel Clapping Hands In

Post a Comment

Previous Post Next Post