Drama Baru! Ia Tak Pernah Menangis Saat Aku Pergi, Tapi Dunia Menangis Bersama



**Senandung Kelabu di Bawah Payung yang Koyak** Gerimis menggantung di Jembatan Seribu Lentera, persis seperti kenangan yang menggantung di benakku. Tujuh tahun. Tujuh tahun sejak ia pergi, meninggalkan aku di bawah payung yang koyak, diterjang angin musim gugur yang menusuk tulang. Aku masih ingat, bagaimana ia menatapku, matanya sedingin pecahan es, bibirnya terkatup rapat. Ia *TIDAK* menangis. Bahkan setetes air mata pun tidak jatuh saat aku berteriak, memohon, dan meratap. Dunia menangis bersamaku hari itu, hujan deras membasahi bumi, seolah ikut merasakan patah hatiku. Tapi dia? Dia hanya berbalik, menyisakan siluet yang semakin menjauh, lenyap ditelan kabut. Namanya dulu adalah melodi dalam setiap hembusan napasku: **Lian**. Sekarang, hanya gema yang memuakkan. Dulu, kami berjanji di bawah pohon sakura yang bermekaran. Dulu, kami saling bertukar rahasia di balik bayang-bayang lentera. Dulu, tawanya adalah mentari di hidupku. Tapi dulu, sebelum ku tahu bahwa senyumnya adalah topeng, bahwa kata-katanya adalah racun yang manis, bahwa hatinya adalah labirin berduri yang dipenuhi kebohongan. Bayangan Lian selalu mengikutiku, memanjang dan patah seiring waktu. Setiap kali hujan turun, aku melihatnya. Di setiap cahaya lentera yang nyaris padam, aku merasakan kehadirannya. Aku mencoba melupakannya, tapi rasa sakit itu seperti akar yang menghujam dalam, merambat ke setiap sudut jiwaku. Orang-orang bilang aku sudah gila. Mereka bilang aku terobsesi. Mungkin benar. Mungkin aku sudah kehilangan akal sehat. Tapi aku tidak peduli. Karena di balik senyum ramahku, di balik kesabaran yang kelihatannya tak berujung, aku menyimpan *RENCANA*. Sebuah rencana yang dirajut dengan benang kebencian dan dendam yang mendalam. Rencana yang membutuhkan waktu tujuh tahun untuk disempurnakan. Aku pura-pura baik-baik saja. Aku berpura-pura memaafkan. Aku bahkan berpura-pura menyambutnya kembali ke dalam hidupku, ketika dia tiba-tiba muncul, seolah tidak terjadi apa-apa, seolah ia tidak pernah menghancurkanku. Ia tersenyum, senyum yang dulu kurindukan, tapi sekarang terasa seperti pisau yang menusuk jantungku. "Lama tidak berjumpa, Mei," sapanya, suaranya selembut sutra. "Lian," balasku, dengan senyum semanis madu. "Selamat datang kembali." Malam itu, di bawah Jembatan Seribu Lentera yang remang-remang, saat ia memelukku, saat ia menciumku, saat ia berbisik janji-janji palsu di telingaku, aku tahu inilah saatnya. Cahaya lentera menari-nari, memproyeksikan bayangan kami yang saling berpelukan, sebuah ilusi kebahagiaan yang mematikan. Ia tidak pernah tahu, bahwa setiap tetes air mata yang tidak ia tumpahkan tujuh tahun lalu, kini menjelma menjadi sungai yang siap menenggelamkannya. Ia tidak pernah tahu, bahwa *warisan* yang ditinggalkan ayahnya padaku... ternyata adalah kunci dari semua ini.
You Might Also Like: 114 Manfaat Sunscreen Mineral Dengan

Post a Comment

Previous Post Next Post