**Bayangan yang Menyusup Dalam Nama** Kabut cendana menyelimuti Paviliun Seribu Bunga, serupa selubung duka yang tak terucap. Di sana, terlukis *seorang wanita*, bayangannya terpantul dalam danau tinta – **Nianhua**. Namanya mengalun seperti melodi terlarang, sebuah simfoni yang hanya berani dimainkan oleh angin malam. Aku melihatnya dalam mimpi, di kebun persik yang mekar abadi. Bunga-bunga berguguran, setiap kelopaknya adalah janji yang tak pernah terucap, setiap desahnya adalah rahasia yang tak pernah terungkap. Wajahnya, selembut *sutra* yang diterpa embun pagi, matanya – dua bintang yang menyimpan galaksi yang hilang. Setiap malam, aku memanjat tangga bulan, berharap menemukan jejaknya di antara awan-awan kapas. Aku mencari di antara halaman-halaman *kitab kuno*, berharap menemukan namanya terukir dalam aksara yang terlupakan. Aku bertanya pada *roh sungai*, apakah mereka pernah melihatnya melintas di atas perahu lotus. Jawaban selalu sama: diam. Diam yang memekakkan, diam yang menyayat hati, diam yang membuatku mempertanyakan kewarasanku sendiri. Apakah Nianhua hanya ilusi? Apakah ia hanya lukisan kabur dalam benakku? Apakah cinta ini hanya bunga tidur yang akan layu saat fajar menyingsing? Bertahun-tahun berlalu, kuas yang kupegang semakin gemetar. Warnaku semakin pudar, namun obsesiku pada Nianhua justru semakin membara. Aku melukisnya berulang kali, mencoba menangkap esensi dirinya, jiwa yang *sulit dipahami*. Suatu senja, saat matahari memerah darah di cakrawala, seorang pelukis tua datang ke paviliunku. Ia menatap lukisan-lukisanku, matanya berkerut dalam keheranan. "Kau... kau melukis ibuku," bisiknya dengan suara bergetar. "Nianhua. Ia menghilang bertahun-tahun lalu, meninggalkan hanya sebuah lukisan dirinya sendiri." Duniaku runtuh. Nianhua bukan ilusi. Ia nyata, dan cintaku padanya, meski hanya terjalin di alam mimpi dan kanvas, adalah nyata. Tapi *kenyataan pahit* menghantamku seperti gelombang pasang: Aku mencintai ibunya. Seorang wanita yang telah lama tiada, seorang wanita yang hanya bisa ku sentuh melalui lukisan dan kenangan. Air mata mengalir di pipiku, menodai lukisan terakhir Nianhua. Keindahan ini, pengungkapan ini, justru menghancurkanku. Aku akhirnya memahami: Aku terjebak dalam lingkaran waktu, mencintai *bayangan masa lalu*, terikat pada nama yang seharusnya tidak pernah kuucapkan. *Bisikan angin berdesir melalui tirai bambu: "Ia menunggumu di bawah pohon persik..."*
You Might Also Like: Skincare Terbaik Dengan Harga
