TOP! Racun Itu Pahit, Tapi Lebih Pahit Menunggumu.



## Racun itu Pahit, Tapi Lebih Pahit Menunggumu. Lampu-lampu kota Shanghai gemerlapan, memantul di gaun sutra merah anggur milik Anya. Ia berdiri di balkon apartemen mewahnya, menyesap *whiskey* yang membakar tenggorokan. Malam ini, aroma melati yang biasanya menenangkan terasa menyesakkan. Dulu, balkon ini adalah saksi bisu janji-janji manis. Dulu, *senyumnya* adalah matahariku, menerangi setiap sudut hatiku. Dulu, *pelukannya* terasa hangat, melindungiku dari badai dunia. Tapi, kini? Kini, senyum itu menipu. Pelukan itu beracun. Dan janji-janji itu… belati yang menusuk tepat di jantungku. Anya menghela napas panjang. Empat tahun. Empat tahun ia mencintai Li Wei dengan sepenuh jiwa. Empat tahun ia membangun kerajaan bisnis bersamanya, rela mengorbankan mimpi-mimpinya sendiri. Empat tahun ia percaya, bahwa cinta mereka adalah abadi. Namun, kenyataannya pahit seperti racun yang kini menyesaki dadanya. Li Wei, pria yang ia cintai, memilih menikahi putri konglomerat rival demi ambisi dan kekuasaan. Sebuah pengkhianatan yang mengoyak hatinya menjadi ribuan kepingan. Anya memandang pantulan dirinya di jendela. Wajahnya tenang, anggun, nyaris tanpa ekspresi. Hanya matanya, menyimpan lautan badai yang tak seorang pun boleh melihatnya. Ia tidak akan menangis. Ia tidak akan meratap. Ia tidak akan membiarkan Li Wei melihat kerapuhannya. Ia akan membalas dendam. Bukan dengan darah dan kekerasan. Tapi dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: **penyesalan abadi**. Anya sudah menyiapkan segalanya. Ia akan meruntuhkan kekaisaran Li Wei dari dalam. Satu per satu asetnya akan direbut. Reputasinya akan hancur. Kekayaannya akan menguap. Dan yang terpenting, ia akan memastikan bahwa Li Wei menyadari, betapa *bodohnya* ia telah melepaskan wanita sepertinya. Esok hari, pernikahan Li Wei akan digelar. Anya akan hadir, mengenakan gaun terindah, dengan senyum semanis madu di bibirnya. Ia akan mengucapkan selamat, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi di balik senyum itu, tersembunyi badai yang akan meratakan seluruh hidup Li Wei dengan tanah. Ia meneguk sisa *whiskey*-nya. Pahit. Tapi tidak sepahit menunggu. Tidak sepahit rasa sakit yang ia rasakan. Anya menutup mata. Di benaknya, terbayang wajah Li Wei yang penuh penyesalan. Dan ia tahu, inilah awal dari akhir segalanya. Ia membenci Li Wei. Ia mencintai Li Wei. Perasaan yang bertolak belakang, namun keduanya begitu kuat, begitu mendalam. Ia tersenyum tipis. Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama, bukan?
You Might Also Like: Cerita Seru Aku Menulis Janji Di Udara

Post a Comment

Previous Post Next Post