Hujan kota. Aroma kopi pahit memenuhi apartemen studionya yang sempit. Di layar ponsel, notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal. 'Aku mencintaimu lagi'. Jantung Anya berdebar—debar yang aneh, bukan kebahagiaan, tapi sesuatu yang lebih mirip nostalgia yang beracun.
Dulu, tiga tahun lalu, pesan-pesan dari nomor itu adalah melodi. Simfoni cinta yang dimainkan olehnya, seorang arsitek muda bernama Rio. Mereka bertemu di aplikasi kencan, sebuah kebetulan di tengah algoritma. Pertemuan singkat berubah menjadi obrolan larut malam, lalu kencan pertama di bawah lampu neon kota. Cinta mereka adalah proyek ambisius, bangunan impian yang ingin mereka bangun bersama.
Tapi, fondasi itu rapuh. Rio, dengan segala pesona dan idealismenya, menyimpan rahasia. Sebuah rahasia yang terungkap dalam screenshot percakapan yang dikirim oleh orang asing, pesan-pesan cinta untuk wanita lain, janji-janji palsu yang bergema di ruang obrolan. Anya hancur. Ia memutuskan semua hubungan, memblokir semua kontak, menghapus semua jejak Rio dari hidupnya.
Sekarang, Rio kembali.
Anya menatap layar ponselnya. Sisa-sisa chat lama masih tersimpan di aplikasi pesan. Kata-kata manis, emoji ciuman, janji-janji yang kini terasa hambar. Ia menghapus semuanya. Satu per satu. Seolah menghapus setiap fragmen hatinya yang pernah ia berikan pada Rio.
Ia bangkit, menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir. Ia tidak marah. Ia hanya merasa kosong.
Rio berusaha keras untuk kembali. Pesan-pesan terus berdatangan, panggilan tak terjawab, bahkan bunga di depan pintunya. Anya mengabaikan semuanya. Ia tahu, menerima Rio kembali sama dengan mengkhianati dirinya sendiri.
MISTERI itu belum selesai. Mengapa Rio kembali setelah tiga tahun? Mengapa sekarang, saat Anya sudah hampir melupakannya?
Akhirnya, Anya menemukan jawabannya. Sebuah artikel online mengungkap proyek terbaru Rio, sebuah resort mewah di tepi pantai. Dana investor terancam gagal karena reputasi Rio yang buruk. Sebuah "cinta" yang dihidupkan kembali, menurutnya, akan menjadi image makeover yang sempurna.
Anya tertawa hampa. Ia tak menyangka, bahkan perasaannya pun bisa dikomodifikasi.
Saatnya untuk balas dendam. Bukan dengan amarah, bukan dengan drama, tapi dengan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: ketidakpedulian.
Anya membalas pesan terakhir Rio. Singkat. Padat. Mematikan.
'Maaf, tapi aku sudah memberikan hatiku pada orang lain. Dan dia tidak menyimpan rahasia.'
Ia memblokir nomor Rio untuk selamanya.
Di Instagram, ia mengunggah foto dirinya, tersenyum tulus. Di tangannya, secangkir kopi panas, dan di latar belakang, pemandangan sunset yang indah. Keterangan foto itu sederhana: 'Bab baru.'
Beberapa bulan kemudian, Anya melihat berita tentang kegagalan proyek resort Rio. Investasi ditarik, reputasinya hancur, dan ia menghilang dari sorotan publik. Anya tidak merasakan apa-apa. Ia sudah terlalu sibuk dengan hidupnya, dengan pekerjaannya, dengan cintanya yang baru.
Suatu malam, saat hujan deras kembali mengguyur kota, Anya menerima sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Hanya satu kata: 'Maaf'.
Anya membiarkan pesan itu mengambang di ruang obrolan. Tanpa balasan. Tanpa emosi.
Ia memejamkan mata. Ia sudah memaafkan Rio. Tapi, ia tidak akan pernah melupakannya. Karena luka yang pernah Rio torehkan adalah pengingat yang kuat untuk mencintai dirinya sendiri lebih dari siapa pun.
Dan kemudian, ia tertidur.
Dia tidak pernah tahu bahwa Rio, pada malam itu, berdiri di bawah balkon apartemennya, menatap siluetnya dari kejauhan, dan tersenyum pahit. Ia tahu, Anya sudah benar-benar meninggalkannya. Namun, ia tidak bisa melepaskan kenangan itu. Kenangan tentang cinta mereka yang mati, di bawah rinai hujan kota, di antara notifikasi yang tak pernah terkirim.
Hujan terus turun.
...dan Anya tidak pernah terbangun.
You Might Also Like: Empowering Entrepreneurs And Investors