Seru Sih Ini! Aku Mencintaimu Dalam Sunyi, Karena Hanya Sunyi Yang Bisa Memahami



## Senandung Sunyi di Bawah Rintik Hujan Berduri Udara dingin menusuk tulang, sama dinginnya dengan tatapan matanya. Di beranda rumah teh usang ini, Mei Lan menatap nanar rintik hujan yang menggigil. Setiap tetesnya bagai pecahan kaca yang menusuk-nusuk memori. Dulu, hujan adalah saksi bisu cinta mereka. Sekarang, hanya menjadi **penghianat**, mengiringi langkah Lin Wei kembali ke kota ini, setelah lima tahun menghilang. Lima tahun. Lima tahun Mei Lan mengubur hatinya di bawah tumpukan sunyi. Hanya sunyi yang mengerti bagaimana remuk redamnya jiwanya saat Lin Wei memilih meninggalkan dirinya demi ambisi. Hanya sunyi yang menemani malam-malam panjangnya, di saat bayangan Lin Wei menari-nari di dinding kamarnya yang gelap. Bayangan yang kini tampak patah dan tak berbentuk, sama seperti hatinya. Lin Wei duduk di hadapannya, senyumnya tipis dan hambar. Cahaya lentera yang nyaris padam di atas meja menyoroti garis-garis keras di wajahnya. Pria yang dulu begitu dicintainya kini tampak asing, seolah terbuat dari es dan batu. "Mei Lan," suara Lin Wei pelan, serak. "Aku kembali." Kata-kata itu jatuh bagai bom di telinga Mei Lan. Kembali? Setelah semua yang terjadi? Setelah ia menghancurkan hidup Mei Lan, ia berani mengatakan kembali? Mei Lan hanya menatapnya, matanya berkilat bagai dua bilah pisau tersembunyi. Ia tidak menjawab. Biarkan sunyi berbicara. Sunyi yang telah menelan semua amarah, semua kepedihan, semua rencana. "Aku tahu aku salah," lanjut Lin Wei, mencoba meraih tangannya. Mei Lan menarik tangannya, menolak sentuhannya. "Kau tidak tahu apa-apa, Lin Wei," bisik Mei Lan, suaranya nyaris tak terdengar. Malam itu, mereka membahas banyak hal, atau lebih tepatnya, Lin Wei berusaha menjelaskan, sementara Mei Lan hanya mendengarkan, menganalisa setiap kata, setiap ekspresi. Setiap detail kecil yang bisa digunakannya. Mei Lan memperhatikan bagaimana Lin Wei, meski tampak sukses dan kaya, masih membawa bekas luka di matanya. Luka yang tidak akan pernah sembuh, karena luka itu bernama *penyesalan*. Mei Lan tahu ia bisa memanfaatkan penyesalan itu. Hari-hari berikutnya, Mei Lan perlahan melunak. Ia membiarkan Lin Wei mendekat, membiarkan kenangan-kenangan lama kembali menghantui mereka. Mereka berjalan di taman yang dulu sering mereka kunjungi, duduk di bangku tempat mereka pertama kali berciuman. Namun, di balik senyum Mei Lan, tersembunyi perhitungan yang dingin. Semakin Lin Wei merasa aman, semakin dalam ia terjerat dalam jaring yang Mei Lan tenun dengan sabar dan teliti. Ia tidak ingin sekadar memaafkan. Ia ingin Lin Wei merasakan apa yang ia rasakan selama lima tahun terakhir. Ia ingin melihat Lin Wei hancur, sama seperti dirinya dulu. Hingga akhirnya, malam itu tiba. Di bawah cahaya rembulan yang pucat, Mei Lan mengakui bahwa ia masih mencintai Lin Wei. Lin Wei, yang sudah terbuai oleh harapannya, tersenyum lega. Ia tidak tahu, di balik pengakuan cinta itu, tersembunyi sebuah pengkhianatan yang jauh lebih kejam dari yang pernah ia lakukan. Mei Lan mendekat, berbisik di telinga Lin Wei, "Tahukah kau, Lin Wei? Semua ini... semua ini hanyalah balas dendam." Mata Lin Wei membulat, terkejut. Ia berusaha menjauh, tetapi Mei Lan sudah menahannya. Senyum di bibir Mei Lan menghilang, digantikan oleh tatapan dingin yang membekukan. "Kau tahu, selama ini aku bertanya-tanya, siapa yang *sebenarnya* membocorkan rahasia perusahaan kita lima tahun lalu? Sekarang aku tahu jawabannya, dan jawabannya ada di hadapanmu, karena..."
You Might Also Like: Mahkota Yang Berlumur Darah Sendiri

Post a Comment

Previous Post Next Post