Hujan selalu menari di atas makam-makam di Bukit Senja. Rintiknya bagai air mata para leluhur, membasahi tanah tempat aku, Lin Mei, berbaring. Dulu. Sekarang, aku hanyalah bayangan, selembut kabut yang enggan beranjak dari sisi kekasih hatiku, Li Wei.
Dulu, bibirku pernah mengucap janji. Janji untuk selamanya mencintai Li Wei, janji untuk mendampinginya melewati badai. Tapi maut datang terlalu cepat. Aku pergi, dengan kebenaran yang terkunci rapat di dalam peti bisu.
Kini, aku kembali. Bukan dalam wujud yang bisa disentuh, bukan dalam suara yang bisa didengar. Aku kembali sebagai roh penasaran, terikat pada dunia ini oleh sebuah tugas yang belum selesai.
Li Wei, hatinya hancur berkeping-keping. Aku bisa merasakannya, seperti duri yang menusuk kalbuku sendiri. Dia menyalahkan dirinya atas kematianku, menyiksa dirinya dengan penyesalan yang tak berujung. Padahal, dia tidak bersalah. SEKALI PUN TIDAK.
Musuhku, Huang Shao, dialah yang harus bertanggung jawab. Dia merebut kebahagiaanku, merenggut nyawaku, dan mencuri masa depanku. Dengannya, aku memiliki urusan yang belum selesai.
Aku mengikutinya dalam diam, bayanganku menari di belakangnya seperti ekor yang tak terlihat. Aku menyaksikan setiap langkahnya, setiap senyum liciknya, setiap kebohongan yang meluncur dari bibirnya. Dulu, ia adalah sahabatku. Sekarang, ia adalah iblis yang bersembunyi di balik topeng kepolosan.
Setiap malam, aku membisikkan namanya di telinganya. Bukan ancaman, melainkan pertanyaan. Pertanyaan tentang kebenaran yang ia sembunyikan, tentang alasan mengapa ia tega menghancurkan hidupku dan Li Wei.
Awalnya, ia mengabaikanku. Menganggapku hanya mimpi buruk, ilusi yang tercipta dari rasa bersalahnya. Tapi semakin lama, bisikanku semakin keras, semakin nyata. Ia mulai ketakutan, paranoid. Ia melihatku di setiap sudut ruangan, mendengar suaraku di setiap hembusan angin.
Suatu malam, di bawah cahaya bulan yang pucat, Huang Shao akhirnya mengaku. Dengan air mata berlinang, ia menceritakan semuanya. Bagaimana ia mencintaiku dalam diam, bagaimana ia iri dengan kebahagiaanku bersama Li Wei, dan bagaimana ia merencanakan kecelakaan itu dengan keji.
Mendengar pengakuannya, dadaku terasa hancur. Bukan karena amarah, melainkan karena kesedihan yang mendalam. Semua ini sia-sia. Kebenciannya, pengorbananku, semuanya.
Namun, ada satu hal yang membuatku tenang. Aku tahu, Li Wei akan memaafkannya. Karena Li Wei adalah orang yang baik, terlalu baik untuk membalas dendam.
Tugasku selesai. Aku tidak mencari pembalasan. Aku hanya ingin kebenaran terungkap, agar Li Wei bisa hidup kembali. Agar ia bisa menemukan kedamaian di hatinya.
Kini, aku bisa pergi dengan tenang. Aku melihat Li Wei berdiri di depan makamku, tersenyum lembut. Ia tahu. Ia tahu segalanya.
Angin malam berbisik di telingaku, seolah mengucapkan selamat jalan. Aku memejamkan mata, merasakan beban di pundakku terangkat.
...dan ia tersenyum, kali ini bukan senyum getir penyesalan, tetapi senyum kedamaian.
You Might Also Like: Rekomendasi Sunscreen Lokal Dengan