Dracin Terbaru: Pelukan Yang Tak Lagi Punya Arti



Jakarta, di bawah runtuhan hujan bulan November. Layar ponselku menyala, menampilkan notifikasi yang dulu kurindukan, kini hanya berupa deretan angka tanpa arti. Dulu, setiap dentingan itu adalah senyum, harapan yang membuncah. Sekarang? Hampa. Sama seperti cangkir kopi yang dingin di meja kerjaku. Aromanya masih sama, pahit dan getir, mengingatkanku pada malam-malam panjang bersamamu.

Dulu, kita bertemu di dunia maya, di antara mimpi-mimpi yang dibagikan lewat status dan obrolan larut malam. Kata-kata puitis mengalir deras, menciptakan jembatan imajiner yang menghubungkan dua jiwa yang kesepian. Kita bertukar playlist, film favorit, bahkan ketakutan-ketakutan terdalam. Semua terasa nyata, meskipun hanya terjadi di balik layar.

Lalu, kita bertemu. Di sebuah kafe di bilangan Senopati. Matamu, teduh seperti senja, menatapku dengan intensitas yang membuatku lupa bagaimana caranya bernapas. Pelukan pertama itu, dulu terasa seperti rumah. Hangat, aman, dan abadi.

Tapi, abadi itu hanyalah ilusi.

Pelan-pelan, pelukan itu kehilangan arti. Jarak tercipta, bukan karena ruang, tapi karena rahasia yang kau simpan rapat-rapat. Aku bisa merasakannya, di balik senyummu yang mulai hambar, di balik sapaanmu yang terdengar dipaksakan. Sisa chat yang tak terkirim menumpuk di draft pesan, berisi pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah berani kuajukan. Kenangan-kenangan indah itu berubah menjadi belati, menusukku setiap kali aku mencoba mengingat.

Aku mencoba mencari tahu, menggali kebenaran di balik misteri ini. Tapi, semakin aku mencari, semakin aku tersesat dalam labirin kebohongan. Aku menemukan fotomu dengan wanita lain, senyum yang sama, tatapan yang sama. Sakit? Lebih dari itu. Hancur.

Malam ini, aku berdiri di balkon apartemenku, membiarkan hujan membasahi wajahku. Aku menulis pesan terakhir untukmu. Bukan makian, bukan tangisan. Hanya sebuah kalimat singkat: "Terima kasih atas ilusi yang pernah kau berikan."

Kubersihkan draft pesan-pesan yang tak terkirim. Kosong. Sama seperti hatiku.

Aku mematikan ponselku.

Besok, aku akan pergi. Menjauh sejauh mungkin. Bukan untuk melarikan diri, tapi untuk menemukan diriku yang hilang. Ini bukan tentang memaafkanmu, atau melupakanmu. Ini tentang diriku.

Aku tersenyum tipis. Sebuah senyum yang penuh arti, senyum yang menyiratkan kekuatan dan ketegasan.

Ini adalah balas dendamku yang paling lembut.

Aku akan bahagia, meskipun tanpa dirimu.

Aku berbalik, meninggalkan balkon yang basah.

Pintu tertutup.

Dan hening...

Ruang itu, tiba-tiba terasa terlalu besar.

You Might Also Like: 0895403292432 Produk Skincare No

Post a Comment

Previous Post Next Post