Kisah Populer: Air Mata Yang Menjadi Bunga Damai



Air Mata yang Menjadi Bunga Damai

Lampu lentera di paviliun itu berayun lemah, memantulkan bayangan Mei Hua yang bergetar di dinding. Malam itu, angin berbisik lirih, seolah melantunkan lagu guqin yang pilu. Di tangannya, tergeletak sepucuk surat—surat pengkhianatan.

Cinta Mei Hua untuk Pangeran Li Wei, bagai bunga plum di musim dingin: mekar dengan indah di tengah kerasnya dunia. Namun, Li Wei memilih kekuasaan, memilih putri dari Jenderal Besar Nan, demi memperkuat posisinya. Hatiku HANCUR.

Mei Hua tidak menangis. Air matanya tertahan, membeku menjadi sebongkah es di dalam dada. Bukan karena ia lemah. Bukan. Ia menyimpan sebuah rahasia besar, rahasia yang lebih berharga daripada cintanya, rahasia yang tak boleh jatuh ke tangan yang salah.

Lima tahun berlalu. Pernikahan Li Wei dan Putri Nan digelar meriah. Mei Hua, dengan gaun sutra abu-abu yang sederhana, berdiri di antara kerumunan. Ia hanyalah seorang pelayan istana biasa, tak lagi dikenal, tak lagi dianggap. Namun, matanya mengawasi.

Misteri mulai menyelimuti Istana Timur. Putra Mahkota, penerus tahta yang digadang-gadang, tiba-tiba jatuh sakit. Dokter kerajaan kebingungan. Mereka tak menemukan apa pun yang aneh. Namun, kondisi sang pangeran terus memburuk.

Beberapa kasim berbisik tentang kutukan. Ada yang melihat bayangan wanita bergaun abu-abu, menaburkan serbuk misterius di taman tempat sang pangeran bermain. Mei Hua diam. Ia terus merawat taman, memangkas ranting, menyirami bunga.

Suatu malam, seorang kasim muda bernama Xiao An memberanikan diri mendekatinya. "Mei Hua JieJie," bisiknya takut, "Aku melihatmu... di taman. Apa yang kau lakukan?"

Mei Hua menatapnya dalam diam. Lalu, ia meraih tangan Xiao An dan meletakkan segenggam benih bunga plum di telapak tangannya. "Tanamlah," katanya lirih. "Tanamlah di dekat jendela kamar pangeran."

Xiao An, meski bingung, menurut. Beberapa minggu kemudian, bunga plum bermekaran dengan indah, mengisi udara dengan aroma yang memabukkan. Anehnya, kondisi sang pangeran berangsur-angsur membaik.

Akhirnya, misteri itu terpecahkan. Serbuk yang ditaburkan Mei Hua bukanlah racun, melainkan sari bunga plum yang langka. Sari itu memiliki kekuatan menyembuhkan penyakit pernapasan, penyakit yang ternyata diderita oleh Putra Mahkota sejak lahir.

Rahasia yang disembunyikan Mei Hua selama ini adalah pengetahuannya tentang ramuan herbal dan khasiat bunga-bunga. Ia memilih diam, memilih menjadi bayangan, karena ia tahu, jika ia mengungkap identitasnya, Li Wei akan memanfaatkan pengetahuannya untuk kepentingan politik. Ia tak ingin pengetahuannya ternoda.

Li Wei, yang kini menjadi Kaisar, akhirnya menyadari kesalahannya. Ia kehilangan cinta sejati, kehilangan wanita yang bisa menjadi penasihat bijaksananya. Kemenangannya terasa hambar, hampa.

Mei Hua, kini dikenal sebagai Tabib Mei, terus merawat orang-orang sakit, menyebarkan kebaikan dengan pengetahuannya. Ia membalas dendam bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kebaikan yang tak terhingga. Takdir berbalik arah, menghukum Li Wei dengan penyesalan abadi, sementara Mei Hua menemukan kedamaian dalam pengabdiannya.

Bunga plum yang bermekaran di Istana Timur, kini menjadi simbol penyesalan Kaisar, dan bunga itu terus mengingatkannya bahwa kebahagiaan sejati, seringkali, terletak pada hal-hal yang paling sederhana, hal-hal yang ia abaikan.

Malam itu, di bawah rembulan yang pucat, Mei Hua memetik setangkai bunga plum putih. Ia menghela napas panjang, lalu membisikkan sebuah nama yang telah lama terkubur dalam hatinya, sebuah nama yang kini hanya menjadi kenangan pahit yang indah: Li Wei...

Apakah Kaisar akan pernah benar-benar bebas dari belenggu penyesalannya?

You Might Also Like: Distributor Kosmetik Bisnis Tanpa Modal

Post a Comment

Previous Post Next Post