Salju berjatuhan tanpa henti, menyelimuti Paviliun Bulan Purnama dengan keheningan yang menusuk tulang. Di sanalah, di tengah dingin yang membekukan, Mei Hua duduk bersimpuh, jari-jarinya yang lentik menari di atas senar guqin tua. Melodi yang keluar lirih, pedih, seperti ratapan jiwa yang terluka.
Dulu, Mei Hua adalah tunangan Pangeran Agung, bunga yang mekar di istana yang megah. Dulu, senyumnya adalah matahari yang menghangatkan hati semua orang. Dulu… sebelum pengkhianatan itu menghancurkan segalanya.
Pangeran Agung, Li Wei, memilih wanita lain. Seorang selir rendahan dengan tatapan licik dan lidah yang berbisa, Lian Er. Pengkhianatan itu bagai belati es yang menancap tepat di jantung Mei Hua. Namun, ia tidak berteriak, tidak melawan, tidak menuntut. Ia hanya diam.
Orang-orang mengira Mei Hua lemah. Mereka berbisik di belakang punggungnya, menertawakan nasibnya. Tapi mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu tentang rahasia yang membara di dalam dirinya, rahasia yang lebih besar dari seluruh istana, rahasia yang tak boleh terungkap.
Rahasia itu tertulis dalam gulungan kain sutra yang ia sembunyikan di dasar kotak musik guqin-nya. Gulungan itu berisi bukti keterlibatan Pangeran Agung dan Lian Er dalam pembunuhan ayahandanya, Kaisar sebelumnya. Keterlibatan yang akan menghancurkan seluruh Dinasti!
Mei Hua tahu, jika rahasia ini terungkap sebelum waktunya, bukan hanya dirinya yang akan binasa, tapi seluruh kerajaan. Ia harus menunggu. Ia harus memainkan peran sebagai wanita yang patah hati, yang menyerah pada takdir.
Musim dingin berlalu, berganti musim semi. Pangeran Agung, kini Kaisar Li Wei, menikahi Lian Er dan mengumumkan pernikahan mereka dengan pesta yang meriah. Mei Hua, yang telah diasingkan ke Paviliun Bulan Purnama, hanya mendengarkan gemuruh pesta dari kejauhan.
Suatu malam, seorang pelayan tua membawakan sepucuk surat kepadanya. Surat tanpa nama, hanya dihiasi dengan gambar bunga plum bunga favorit Mei Hua. Di dalamnya tertulis sebuah kalimat singkat: "Waktunya telah tiba."
Mei Hua tahu apa yang harus dilakukannya.
Ia menulis surat balasan, juga tanpa nama, dan menitipkannya kepada pelayan tua. Surat itu berisi instruksi rahasia yang hanya dimengerti oleh satu orang: Jenderal Zhao, komandan pasukan kekaisaran yang setia pada mendiang Kaisar.
Beberapa hari kemudian, terjadi pemberontakan. Bukan pemberontakan kecil, tapi pemberontakan besar yang mengguncang seluruh istana. Jenderal Zhao dan pasukannya menyerbu masuk, menangkap Kaisar Li Wei dan Lian Er.
Di tengah kekacauan, Mei Hua muncul. Ia membuka gulungan kain sutra dan membacakan isinya di hadapan seluruh istana. Pengkhianatan dan pembunuhan terungkap. Kaisar Li Wei dan Lian Er dihukum mati.
Mei Hua tidak pernah memegang pedang, tidak pernah mengangkat tangannya untuk membalas dendam. Tapi ia telah merencanakan semuanya dengan sempurna, menunggu momen yang tepat untuk mengungkap kebenaran. Bukan karena lemah ia diam, tapi karena ia memiliki kekuatan yang lebih besar: kesabaran dan kecerdasan.
Takhta kini kosong. Para petinggi istana bingung siapa yang pantas menggantikan Li Wei. Jenderal Zhao mendekati Mei Hua dan berlutut di hadapannya.
"Yang Mulia, Anda adalah satu-satunya yang pantas memimpin."
Mei Hua tersenyum tipis. Ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku bukan orang yang tepat untuk menjadi Kaisar. Aku hanya ingin kembali ke Paviliun Bulan Purnama dan memainkan guqin-ku."
Mei Hua menunjuk seorang anak laki-laki yang berdiri di belakang Jenderal Zhao. Anak itu adalah keponakan mendiang Kaisar, cucu dari Kaisar sebelumnya.
"Dialah yang akan menjadi Kaisar."
Dengan begitu, Mei Hua menghilang kembali ke Paviliun Bulan Purnama. Ia meninggalkan istana yang penuh intrik dan pengkhianatan, memilih kesunyian dan kedamaian. Ia telah menuntaskan balas dendamnya, bukan dengan kekerasan, tapi dengan keadilan yang ia ciptakan sendiri.
Di Paviliun Bulan Purnama, Mei Hua memainkan guqin-nya. Melodi yang keluar kini tidak lagi pedih, tapi agak… kosong. Ia telah mengorbankan segalanya, termasuk cintanya, untuk melindungi kerajaannya. Ia telah menjadi bunga yang mekar di musim dingin, indah namun pahit.
Namun, saat bulan purnama bersinar, sebuah pertanyaan menggantung di udara: apakah semua yang ia lakukan benar-benar murni karena bakti dan keadilan, atau ada alasan lain yang lebih dalam, tersembunyi di balik senyum tipis dan mata yang teduh?
You Might Also Like: Best Place To Getaway From City