Dracin Terbaru: Tangisan Yang Membeku Di Tengah Salju Dendam



**Kabut di Lembah Salju yang Terlupakan** Hujan *es* menggigil, mencambuk wajah Lan Yi dengan cambuk kasat mata. Setiap tetesnya terasa seperti kepingan memori, membawanya kembali ke malam itu, malam *pengkhianatan* yang memecah belah segalanya. Dulu, di lembah ini, tawanya bergaung bersama tawa Lie Feng, kekasihnya. Sekarang, hanya gema kesunyian yang membalas. Lan Yi menatap lentera usang di tangannya. Cahayanya *nyaris padam*, sama seperti harapan yang ia kubur dalam-dalam. Bayangannya memanjang, patah di atas salju yang mulai membeku. Ia ingat sentuhan tangan Lie Feng, hangat dan penuh janji. Janji yang kini hancur menjadi debu. "Kau kembali," suara bariton itu memecah keheningan. Lie Feng berdiri di ambang pintu gubuk reyot. Matanya dingin, tak lagi memancarkan kehangatan yang dulu membuat Lan Yi luluh. "Aku kembali untuk mengambil apa yang menjadi hakku," jawab Lan Yi, suaranya serak tertelan kabut. Lie Feng mendengus. "Hak? Kau pikir kau punya hak setelah apa yang kau lakukan?" "Apa yang *kulakukan*?" Lan Yi membalas, matanya berkilat. "Atau apa yang *kau lakukan* padaku?" Pertengkaran meledak seperti badai salju. Kata-kata pahit meluncur bagai pisau, mengiris luka lama yang belum sembuh. Lie Feng menuduh Lan Yi bersekongkol dengan musuh, menjual rahasia keluarga. Lan Yi membela diri, mengatakan bahwa ia dijebak. Kebenaran tersembunyi di balik lapisan kebohongan dan rasa sakit, tak terjangkau oleh siapapun. Malam itu, Lan Yi mengungkapkan rencananya. Balas dendam. Ia akan mengambil kembali kehormatannya, menghancurkan Lie Feng dan semua orang yang terlibat dalam konspirasi itu. Matanya menyala dengan api dingin yang membakar hatinya. Lie Feng tertegun. Selama ini, ia menyangka Lan Yi hanya meratapi nasib. Ia tidak tahu bahwa di balik wajah sendu itu, tersembunyi *kekuatan* dan *kebencian* yang siap meledak. "Kau tidak akan berhasil," desis Lie Feng, suaranya bergetar. "Benarkah?" Lan Yi tersenyum getir. Ia mengangkat lentera tinggi-tinggi, memperlihatkan bayangan yang menari-nari di dinding gubuk. Bayangan itu bukan hanya miliknya, tetapi juga… sosok seorang pria yang selama ini disangka *mati*. Mata Lie Feng terbelalak. "Tidak mungkin…" Hujan es semakin deras, menutupi semua suara. Lan Yi mendekat, berbisik di telinga Lie Feng, "Semua ini… adalah rencananya… *sejak awal*."
You Might Also Like: 0895403292432 Agen Skincare Jualan

Post a Comment

Previous Post Next Post