Aku Menatap Wajahmu Di Majalah, Tapi Matamu Tetap Menyalahkanku



Aku Menatap Wajahmu di Majalah, Tapi Matamu Tetap Menyalahkanku

Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, terasa begitu berat. Udara lembab dan dingin menusuk tulang, seolah membawa serta bisikan masa lalu yang kelam. Di balik jendela kaca yang berembun, salju turun dengan kejam, menutupi halaman luas kediaman keluarga Li dengan lapisan putih yang menyilaukan. Tapi, di balik keindahan yang membekukan itu, tersembunyi noda DARAH.

Tanganku gemetar memegang majalah. Wajahmu, Lan Mei, terpampang di sana, sempurna dan tanpa cela. Senyummu begitu mempesona, menipu mata siapa pun yang tidak tahu kebenaran. Tapi aku tahu. Aku SELALU tahu. Mata itu... mata itu tidak pernah tersenyum padaku. Mata itu menyalahkanku.

Dupa cendana yang kubakar terasa menyesakkan, setiap kepulannya mengantarkan bayangan-bayangan mengerikan. Dua puluh tahun. Dua puluh tahun aku memendam rahasia ini, membiarkannya menggerogoti jiwaku hingga nyaris tak bersisa. Dua puluh tahun aku mencintaimu, Lan Mei, dan dua puluh tahun pula aku membencimu.

Ingatkah kau pada malam itu, Lan Mei? Malam saat sumpah kita terucap di bawah pohon sakura yang tengah mekar? "Sampai maut memisahkan," bisikmu, dengan mata yang berbinar penuh kepalsuan. Sumpah itu kini hanya abu. Abu yang berterbangan di antara kita, menyelimuti janji yang sudah lama mati.

Kau merebut segalanya dariku. Cinta. Keluarga. Kehormatan. Semuanya kau ambil dengan senyuman manis dan tatapan polosmu. Dan aku? Aku hanya bisa terdiam, terperangkap dalam jaring kebohongan yang kau rajut dengan begitu sempurna.

Air mata mengalir di pipiku, bercampur dengan aroma dupa yang semakin menyengat. Aku bukan orang suci, Lan Mei. Aku hanya manusia biasa. Dan manusia, bahkan yang paling sabar sekalipun, memiliki batasnya.

Kau pikir aku akan membiarkanmu bahagia? Kau pikir aku akan membiarkanmu menikmati buah dari pengkhianatanmu? SALAH BESAR.

Rasa sakit ini... rasa sakit yang telah kurasakan selama dua dekade ini, akhirnya menemukan jalannya. Sebuah senyuman tipis, dingin, dan mematikan, terukir di bibirku.

Balas dendam bukanlah sesuatu yang dilakukan dengan amarah yang membara. Bukan pula dengan teriakan histeris. Balas dendam adalah hidangan yang terbaik disajikan saat dingin. Dan malam ini, hidangan itu siap disantap.

Aku mengambil ponselku. Menekan sebuah nomor yang sudah lama tersimpan.

"Selesaikan," ucapku, dengan suara yang tenang dan datar. "Pastikan tidak ada yang tersisa."

Di balik salju yang turun dengan deras, di antara hembusan angin yang membekukan, aku mendengar suara sirene menjauh. Kau mungkin tidak akan pernah tahu bahwa kematianmu adalah HADIAH yang kulayan untukmu, Lan Mei. Sebuah hadiah dari hati yang terlalu lama menunggu.


Dan di tengah keheningan malam yang menusuk, di antara salju yang terus menumpuk, aku tahu... suatu saat nanti, bayanganmu akan datang menghantuiku, selamanya.

You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Alami Untuk

Post a Comment

Previous Post Next Post