Cerpen Terbaru: Kau Memeluk Buku Yang Kuberikan, Seolah Di Dalamnya Ada Perasaanku



Baiklah, inilah kisah pendek bergaya dracin absurd yang kamu minta: **Kau Memeluk Buku yang Kuberikan, Seolah di Dalamnya Ada Perasaanku** Layar ponselnya berkedip-kedip, menampilkan chat terakhir dari Jian: "Sedang mengetik...". Tapi jam dinding digital itu sudah menunjukkan 03:03, dan Jian masih *sedang mengetik* di suatu dimensi yang entah di mana. Xiao Yu menghela napas. Di balkon apartemennya yang lusuh, langit *selalu* berwarna senja, bahkan di tengah hari bolong. Duniaku, pikirnya, adalah gagal *loading*. Jian hidup di masa lalu. Setidaknya, itulah yang dia rasakan setiap kali membaca pesan-pesan kuno Jian di aplikasi yang hampir punah itu. Jian mengirim foto-foto langit biru, konser musik di taman, dan senyuman hangat yang terasa seperti nostalgia akan sesuatu yang belum pernah Xiao Yu alami. Di dunia Xiao Yu, oksigen dijual per liter, dan sentuhan manusia dianggap tindakan terlarang. Suatu malam, dalam keremangan cahaya lampu neon yang berkedip, sebuah paket aneh tiba. Sebuah buku. *Bukan* e-book, bukan hologram, tapi buku dengan kertas dan tinta. "Untukmu," tertulis di secarik kertas yang diselipkan di dalamnya, "semoga kau menemukan sedikit kehangatan di dalamnya." Itu adalah buku puisi. Puisi-puisi Jian. Xiao Yu membaca setiap baris, setiap kata. Kata-kata itu beresonansi dengan perasaan aneh yang bergejolak dalam dirinya – perasaan yang dia yakini sebagai *cinta*. Dia membayangkan Jian menulis puisi-puisi itu di bawah pohon sakura, tertawa bersama teman-temannya, merasakan matahari di kulitnya. Semua hal yang sudah lama hilang, atau mungkin, belum pernah ada. Di dunia Jian, Xiao Yu hanyalah suara samar dari masa depan yang kelam. Sebuah gangguan dalam sinyal radio. Tapi Jian tetap menulis. Dia menulis tentang harapan, tentang cinta, tentang janji bahwa suatu hari, mereka akan bertemu di suatu tempat di antara dimensi waktu yang saling bertabrakan. Xiao Yu memeluk buku itu erat-erat. Kertasnya terasa hangat di tangannya. Seolah Jian sendiri yang memeluknya. Suatu hari, sebuah pesan aneh muncul di ponsel Xiao Yu. Bukan dari Jian. Bukan teks. Hanya serangkaian angka dan simbol yang tidak bisa dipecahkan. Kemudian, gelap. Ketika dia membuka mata, dia berada di taman. Ada pohon sakura yang sedang bermekaran. Musik mengalun lembut. Seorang pria berdiri di dekatnya, memegang buku yang sama yang dia peluk tadi malam. Pria itu menoleh dan tersenyum. Senyum yang sama persis seperti di foto-foto Jian. "Xiao Yu?" tanyanya. Xiao Yu mengangguk, terisak. "Jian?" Jian mendekat dan menyentuh tangannya. Sentuhan itu *nyata*. Lebih nyata dari apa pun yang pernah dia rasakan. "Aku sudah menunggumu," kata Jian. "Lama sekali." Kemudian, langit terbelah. Sebuah celah besar menganga di atas kepala mereka, memperlihatkan kehampaan hitam yang dingin. Taman mulai runtuh. Pohon sakura layu. Musik berhenti. "Kita tidak punya banyak waktu," kata Jian, suaranya bergetar. "Kau harus tahu..." Dia berhenti. Sebuah cahaya aneh menyelimuti mereka. "...bahwa kita... adalah... **_ingatan_**..." Dunia menjadi putih. Xiao Yu terbangun. Dia berada di kamarnya. Ponselnya mati. Tidak ada buku. Tidak ada taman. Tidak ada Jian. Dia bangkit dan menatap ke luar jendela. Langit tetap senja. Kemudian, dia melihat sesuatu yang aneh. Sebuah pesan *baru* di ponselnya. Bukan teks. Hanya serangkaian angka dan simbol yang tidak bisa dipecahkan. Di bawahnya, tertulis sebuah catatan kecil, dengan tulisan tangan yang familiar: *Jangan lupakan kita, sampai nanti kita bertemu lagi… di mana pun itu.*
You Might Also Like: 7 Fakta Interpretasi Mimpi Menangkap

Post a Comment

Previous Post Next Post