Aku Menatap Wajahmu Di Majalah, Tapi Matamu Tetap Menyalahkanku
Aku Menatap Wajahmu di Majalah, Tapi Matamu Tetap Menyalahkanku Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, …
Aku Menatap Wajahmu di Majalah, Tapi Matamu Tetap Menyalahkanku Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, …
Hujan selalu menari di atas makam-makam di Bukit Senja. Rintiknya bagai air mata para leluhur, membasahi tan…
Salju berjatuhan tanpa henti, menyelimuti Paviliun Bulan Purnama dengan keheningan yang menusuk tulang. Di s…
Air Mata yang Menjadi Bunga Damai Lampu lentera di paviliun itu berayun lemah, memantulkan bayangan Mei Hua…
Jakarta, di bawah runtuhan hujan bulan November. Layar ponselku menyala, menampilkan notifikasi yang dulu k…
Senyum yang Membawa Surat Wasiat Terakhir Babak 1: Bunga Plum di Musim Dingin Abadi Di tengah hiruk pikuk …
Cinta yang Menyeretku ke Dalam Dosa Angin berdesir di antara pepohonan sakura di Danau Barat, sama seperti …